Selasa, 11 Mei 2010

Chapter 1
Hari yang cerah dan pagi yang penuh sesak.


Masih terus terbayang wajah ibunya saat berpamitan hendak pergi ke kampus tadi, setiap langkah dan jarak dilewatinya dengan perasaan haru. Ada semacam kontak bathin yang terasa begitu kuat antara dirinya dan ibunya, intuisi dari mata ibunya dimengerti sebagai harapan yang begitu tinggi pada dirinya agar dapat menjadi orang yang terpandang dan berguna bagi semua orang suatu hari kelak.
”Amak, oiii Amak...”. Ucap Bilal setelah membaurkan tali sepatunya di depan rumahnya.
”Iya tunggu sebentar”. Sahut ibunya dari dalam rumah.
“Amak, Bilal mau pergi ke kampus lagi Mak”. Ucap Bilal lagi.
*Ibu (bahasa Padang)
Ibu Bilal keluar dari rumah sambil memakaikan tekuluk pada kepalanya.
”Sudah sarapan anakku—Bilal yang paling ganteng?”.
”Belum Mak, kalu sarapan dulu nanti Bilal bisa telat sampai ke kampus”.
”Teh yang amak taruh di atas meja kamarmu sudah diminum?”.
”Oh iya lupa, belum lagi Mak”.
”Tunggu di sini sebentar, biar Amak ambilkan”. Kata ibu Bilal sambil masuk kembali ke dalam rumah.
”Amak, Bilal harus buru-buru—Bilal pamit dulu, Assalammualaikum.” Ucap Bilal setelah menghabiskan segelas kecil teh hangat dari ibunya dan mencium tangan ibunya.
”Bilal!”.
Bilal menghentikan langkahnya karena merasa ibunya akan mengucapkan sesuatu. Bilal membalikkan tubuhnya lagi berhadapan dengan ibunya.
”Ongkos buat pergi ke kampusnya tidak perlu?”. Tutur Amak sambil tersenyum dan mengulurkan tangan yang memegang selembar uang Rp.5000,- .
”Oh iya, untung Amak ingatkan—Amak memang is the best, terima kasih Amak”. Ujar Bilal menyanjung ibunya.
Bilal sejak dulu paham dimana tempat dia berdiri, tak ingin mengeluh jika sesuatu yang diterimanya terasa sangat kecil dan begitu kurang. Apa pun dan berapa pun jumlah yang diberikan oleh orang tuanya, diterimanya dengan perasaan senang.
Setelah Bilal mengambil uang dari tangan ibunya, dia langsung membalikkan badan lagi bergegas untuk menuju kampus. Baru tiga langkah berjalan, ibunya memanggil kembali.
“Bilal…!”. Seru Amak.
Kembali Bilal membalikkan badan ke arah ibunya. Mata keduanya bertemu pandang, suasana hening sejenak.
“Hati-hati di jalan nak!”. Satu kalimat terucap dari mulut Amak.
Ucapan dari ibunya hanya di balas anggukan oleh Bilal. Saat perhatian dan kasih sayang yang begitu tulus terasa menyelimuti kalbu, menghangatkan jiwa, apa kata-kata yang pantas yang mesti diucapkan. Lidahnya menjadi kelu, tak sanggup digerakkan untuk mengucapkan hanya sekedar terima kasih.
Sepatu menapak begitu cepat di jalan setapak yang berbatu, bergegas berpacu dengan waktu agar tidak terlambat pada kelas pagi ini. Bilal merasa lamban dari biasanya, dia berangkat jalan kaki dari rumahnya pukul 7.10 WIB. Tak ada angkutan umum yang lewat di depan rumahnya yang menuju langsung ke kampusnya. Untuk dapat naik angkot tujuan Pasar Baru, Bilal terlebih dahulu mesti berjalan kaki ke kawasan Ratulangi. Rumah Bilal yang terletak di pinggir jalan pantai Muara Padang membuatnya terpaksa berjalan kaki kurang lebih sejauh 500 meter dari simpang Ratulangi untuk menunggu angkutan umum trayek Pasar Baru di situ.
Kemilau cahaya matahari mulai meninggi di ufuk Timur, cuaca yang cerah di bawah langit kota Padang, membakar semangat untuk beraktifitas pagi ini. Hanya terlihat sedikit toko yang baru buka di komplek ruko jalan Belakang Olo yang bersisian dengan jalan Ratulangi. Namun, di jalanan sudah ramai dengan angkot dan kendaraan pribadi yang lalu-lalang. Di trotoar yang sama dengan Bilal, juga sudah banyak pelajar dan pekerja yang berjalan beriringan dengannya.
Seperti biasanya, pakaian yang dikenakannnya bergaya old school, membuat Bilal terlihat unik di antara orang-orang lainnya. Celana jeans cut bray dongker dipadu dengan kemeja kuning lengan panjang agak junkies, dan sepatu cats putih agak usang yang berlobang pada beberapa sisi serta sebuah tas sandang hitam. Sangat sederhana memang, tak ada gaya yang mencerminkan trend masa kini. Semuanya terlihat lama, yang terbaru hanyalah sepatu cats yang dibelinya ketika hendak masuk kuliah dulu. Ditambah pula aroma parfum Paris (Pariaman dan sekitarnya) produk Anwar & Sons yang disemprotkan ke tubuhnya bersemerbakan di jalanan.
”Pukul berapa sekarang uda*?”. Tanya Bilal pada seorang pemuda yang duduk di sebelahnya.
”Pukul 7.40 WIB”. Jawab pemuda itu singkat sambil mengangkat tangannya dan melihat waktu di jam tangannya.
”Oh...terima kasih uda”. Balas Bilal.
”Sama-sama”. Tukas pemuda itu singkat.
*panggilan untuk laki-laki yang sebaya atau lebih besar
Jam dinding yang terpasang di dashbord bus kota sudah menunjukkan pukul 7.40 WIB, hari ini jadwal kuliah Bilal hari senin ini dimulai pukul 8.00 WIB. Butuh waktu sekitar 30 menit dari kawasan Ratulangi menuju kampus. Perasaan ragu akan terlambat sampai di kampus mengharuskan Bilal memilih naik bus kota dari pada angkot hijau yang biasa ditumpanginya. Alasannya karena biasanya bus kota lebih cepat sampai dibandingkan angkot.
Bus kota dikemudikan oleh sopir yang tak jauh lebih tua dari pada Bilal. Jika umur Bilal sekarang 20 tahun, maka kira-kira umur si sopir itu 21 tahun. Bus melaju dengan kecepatan yang sangat tidak stabil, sangat kencang tapi ketika ada terlihat penumpang di jalan, sopir langsung memfungsikan rem angin lalu menginjak pedal rem dengan spontan. Bus terhenti dengan kasar, membuat perut yang kosong menjadi mual.
Mungkin karena emosi masyarakat akar rumput cenderung labil sehingga sopir yang tergolong ke dalamnya mengemudikan bus dengan gaya ugal-ugalan. Hal ini memang sudah biasa dalam habitual sopir-sopir angkutan umum di kota Padang, terutama bus kota. Problema dari dalih untuk mengejar setoran kepada induk semang tapi kurang menghiraukan keselamatan. Barangkali karena skill mengemudi sopir angkot di Padang di atas rata-rata, kenyataannya kecelakaan lalu lintas yang disebabkan oleh angkot atau pun bus kota di Padang terbilang kecil.
”Ongkosnya ya, tolong ongkosnya.” Terdengar suara kernet bus dari belakan kursinya meminta ongkos perjalanan.
Bilal mengeluarkan lembar lima ribu-an satu-satunya dari saku, membayarkannya pada kernet dan kemudian kernet memberikan kembaliannya lagi Rp.3000,-.
Bergantian pedal gas dan rem angin difungsikan oleh si sopir, mengaduk isi perut. Bilal yang rentan mabuk perjalanan tak kuasa menahan mabuknya dan dikeluarkannya lewat jendela sisi kiri tempat duduknya. Tak disengaja muntahannya mengenai helm seorang pengendara motor di samping bus, helm yang berwarna hitam seketika bercorak keputihan akibat muntahan.
”Woiii.....!!!”. Hanya itu yang terdengar dari teriakan suara pengendara motor yang tercekat oleh helmnya.
Bilal yang menyadari hal itu merasa bersalah dan ingin meminta maaf. Namun, sopir begitu lincah meliuk-liukkan bus kota mendahului kendaraan-kendaraan lain di depannya sehingga pengendara motor jauh tertinggal di belakang. Bus kota sudah melewati kawasan Anduring mendekati simpang kampus Universitas Andalas di jalan By-Pass, lampu merah menghentikan laju bus kota. Bilal sudah mulai merasa keadaannya kembali netral—kepalanya mulai terasa ringan.
Bus berhenti sebentar di simpang kampus By-Pass, menaikkan mahasiwa-mahasiswi UNAND lainnya yang sedang menanti angkutan umum hendak pergi ke kampus. Setelah sarat dengan penumpang, bus melesat menuju Pasar Baru. Bus kota dengan susunan kursi penumpang 2-2, karena terlalu penuh penumpang sudah sampai berdiri ditengah-tengahnya. Bilal merasa kasihan melihat mahasiswi cantik yang berdiri dan berpegangan pada senderan jok tempat duduknya, dia berdiri lalu menyuruh mahasiswi itu untuk duduk di kursinya.
”Silahkan duduk uni*, nanti uni letih berdiri”. Ucap Bilal.
”Terima kasih, tapi saat ini Saya lebih suka berdiri”. Jawab gadis itu cuek.
”Ondeh-Mandeh, zaman emansipasi kini ko mah, lupo den* ”. Gerutu Bilal sembari duduk kembali di kursinya.
*panggilan untuk perempuan sebaya atau lebih tua
*ya ampun, zaman emansipasi sekarang ini rupanya, lupa aku.
Bus kota perlahan mulai pelan lajunya, jalanan terlihat agak macet di depan, ini sudah sampai di simpang Pasar Baru.
”Yang Pasar Baru habis ya, silahkan turun”. Kernet bus mengisyaratkan penumpang untuk turun.
Trayek bus kota atau pun angkot hijau hanya sampai Pasar Baru. Universitas Andalas menyediakan fasilitas bus kampus dari Pasar Baru menuju Bukit Limau Manis. Mengenai uang transportasinya dibayarkan pada saat mahasiswa-mahasiswi UNAND membayar uang SPP.
Di pasar baru sudah terlihat ramai dengan mahasiswa-mahasiswi yang berjalan terburu-buru mendekati halte bus kampus. Bilal dengan terburu-buru turun dari bus kota, dengan langkah tergopoh-gopoh menyusul mahasiswa-mahasiswi lainnya.
Terlihat sebuah bus kampus tengah berputar arah segera berangkat menuju bukit Limau Manis—lokasi kampus pusat universitas yang katanya memiliki arsitektur termegah di Asia Tenggara itu.
Bilal tak lagi berjalan, berlari berusaha ikut naik ke dalam bus yang hendak melaju itu. Suatu kebiasaan naik bus di Padang, dimana setengah bagian bus ke belakang adalah bagian penumpang laki-laki, dan dari bagian tengah ke depan adalah bagian penumpang perempuan. Pintu belakang bus tertutup, dan hanya pintu depan bus yang terbuka.
”Apa boleh buat lah, daripada tidak bisa masuk ruang kuliah karena telat lebih dari 15 menit”. Gumam Bilal sambil berlari mendekati pintu depan bus.
Konsekuensi akibat keterlambatan yang lebih dari batas waktu toleransi adalah sesuatu yang harus dipertanggungjawabkan oleh mahasiswa. Di awal perkuliahan pada awal semester, mahasiswa dan dosen sudah menyetujui kontrak perkuliahan yang sekaligus menyangkut kedisiplinan.
Bilal mencoba meraih sesutau pegangan di dekat pintu depan agar bisa berayun naik ke atas bus, berdiri di sela-sela mahasiswi yang juga sudah padat hingga sampai muka pintu. Tangan kanannya memegang handle pintu dan mencoba mengangkat tubuhnya ke atas bus. Bilal merasa tubuh tidak seimbang dan berat ke belakang, butuh pegangan agar tidak jatuh. Entah sial atau beruntungnya, Bilal berpegangan pada bagian tubuh paling sensitif seorang mahasiswi.
”Auwwww.....kurang ajar!”. Sontak, mahasiswi itu berteriak karena dia pikir Bilal bertindak kurang ajar padanya.
”Plaaaaak...!”. Satu tamparan pedas mendarat di pipi Bilal.
Pak sopir terkejut dan menghentikan laju bus kampus, seluruh penumpang bus jadi heboh mendengar teriakan itu. Suasana menjadi ribut di dalam bus. Bilal jadi target ocehan mahasiswi-mahasiswi di dekatnya yang merasa terganggu karena tindakannya.
”Hei cowok!, kalau naik bus itu tolong dengan cara yang tertib!. Sembur salah seorang mahasiswi.
“Maaf uni, saya sudah telat”. Balas Bilal membela diri.
”Telat apa? Telat datang bulan?” Tau kan kalau di depan ini tempatnya cewek? Potong mahasiswi lainnya.
”Sekali lagi maaf, saya buru-buru—terlambat 15 menit atau lebih tidak bisa masuk ruangan lagi”. Bilal mencoba membela diri.
”Apa pun alasannya, naik bus kampus itu mesti antri. Karena kita semua ada pada kebutuhan yang sama. Kalau tidak mau antri, ya datanglah subuh-subuh! Pasti nomor satu lah Kau!”. Ujar mahasiswi lain yang berlogat Medan.
”Saya juga sudah hampir telat, tapi tetap antri”. Sambung mahasiswi lain lagi.
”Haaah...telat datang bulan uni?”. Balas Bilal lagi.
”Dasar otak mesum! Pikirannya memang kotor!.”
”Turun-turun!”. Bilal jadi bulan-baulanan ocehan mahasisiwi-mahasiswi.
Bilal tahu perbuatannya itu memang salah dan menyadari betul kesalahannya itu. Tak ingin lama membuat rusuh dalam bus, Bilal turun dari bus kampus diiringi sorakan mahasiswi-mahasisiwi.
Salah satu realita yang harus dihadapi oleh seorang Bilal—mahasiswa yang hidup dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan. Tidak ada kata instan dalam kamus hidupnya. Namun, dia tetap bertahan, tabah dan bahagia menjalani hidup ini. Hidup susah bukan lagi hal baru baginya, sedari kecil dia sudah belajar untuk hidup pada keadaan yang susah. Ketika cobaan melanda tetap berusaha mengatasinya dengan penuh semangat. Dan saat beban dirasa terlalu berat hingga tak kuasa menahan, sekalipun hanya bisa bersikap pasrah, dia tetap tidak berputus asa..
Bilal berjalan dengan wajah masam menuju halte untuk antri naik bus kampus yang akan berangkat berikutnya. Mentari di ufuk timur terasa sudah mulai meninggi, pagi yang sudah tak ada kesejukan lagi. Bilal berada diantara mahasiswa-mahasiswa UNAND lainnya yang hendak menaiki bus kampus. Berdesak-desakan, dulu-mendahului agar dapat memasuki pintu belakang bus. Mencoba untuk terus maju, dan bertahan sebisa mungkin untuk tidak memundurkan langkah. Ini bukanlah bentuk antrian lagi, semua mahasiswa melupakan soal ketertiban karena pada pikiran yang sama yaitu takut terlambat mengikuti perkuliahan.
Barangkali kultur boleh dikesampingkan ketika keadaannya mendesak. Sekilas, persepsi ini tak mengapa untuk dibenarkan. Tetapi, jika terbiasa maka akan berpengaruh buruk yang berkelangsungan bagi pemuda-pemudi yang akan menjadi ujung tombak perjuangan dalam membangun bangsa di masa depan. Membentuk karakter individualis, dan termotivasi untuk melakukan sesuatu jika ada keuntungan pribadi semata.
Bilal sendiri pun tak menyadarinya, padahal ada banyak armada bus kampus UNAND yang akan berangkat. Andai saja dia dapat bersabar atau pun dapat memperbaiki manjemen waktu lagi, tentu dia tidak akan mengalami hal-hal seperti ini.
Bilal mencoba naik ke bus karena pintu yang sudah berada di hadapannya. Tapi pandangan di mukanya tidak bercelah, mahasiswa sudah penuh sesak hingga membentuk pagar manusia di depan pintu. Tak ada ruang lagi semestinya untuk masuk. Bilal tetap mencoba naik, menahan pintu yang berusaha ditutup oleh mahasiswa lainnya hingga tangannya terjepit.
Sejenak dia lupakan rasa sakit yang telah sampai ke dalam dada, coba mencari pegangan biar bisa berdiri di dekat pintu pun sudah cukup pikirnya.
Bus kampus sudah terlalu penuh hingga mahasiswa saling berdesak-desakan. Tubuh mahasiswa saling dorong-mendorong, mereka kesulitan menjaga keseimbangan ketika bus kampus melaju. Ketika Pak Sopir mengoper portsneleng dan melepaskan injakan kopling dengan sangat cepat, tubuh mahasiswa yang berdiri berayun dan terdorong ke belakang.
Salah seorang mahasiswa di belakang tubuh Bilal yang sama-sama berdiri di dekat pintu bus tak seimbang dan mendorong tubuh Bilal hingga pintu bus yang tak bisa di tutup sempurna terbuka dan Bilal berayun-ayun pada daun pintu yang terbuka. Bilal terkejut mendapati dirinya tengah dalam keadaan demikian, ujung sepatunya terseret-seret ke aspal. Bilal menghirup napas panjang—mengumpulkan tenaga meraih tangan seorang mahasiswa lain yang berdiri di dekatnya tadi agar bisa kembali masuk ke dalam bus.
Beruntung Pak Sopir melihat Bilal tengah bergelantungan—terayun-ayun di daun pintu yang terbuka lewat kaca spion kiri dan segera menghentikan laju bus. Ini kali kedua bus terhenti karena dirinya, dia merasa seperti telah menjadi seorang biang keladi hari ini.
Hari ini memang butuh perjuangan untuk dapat sampai di kampus baginya, kaki masih terasa menggigil, jantungnya masih berdebar-debar, dadanya sempat sesak sesaat setelah apa yang dialaminya.
Perasaan yang tidak menyenangkan, meskipun telah sampai di kampus dari perjalanan yang memicu adrenalin. Perasaan Bilal mengatakan kalau dia telah terlambat lebih dari 15 menit, perkiraannya sudah ada 30 menit dia terlambat. Ada semacam dilema yang menggelayuti pikirannya saat ini, satu sisi suara hatinya menyarankan agar dia lebih baik tidak masuk saja. Karena percuma saja, dia tidak akan diperkenankan lagi untuk mengikuti perkuliahan. Dilain sisi, suara hatinya mengatakan kalau dia tidak boleh menyia-nyiakan usahanya yang telah susah payah untuk bisa cepat sampai ke kampus. Siapa tahu suasana hati dosennya saat ini sedang bahagia sehingga tidak mempermasalahkan keterlambatannya.
Keteptan waktu atau pun kedisiplinan sangat diutamakan dalam akademisi di Universitas Andalas. Ini bertujuan agar mahasiswa-mahasiswi Universitas Andalas dapat menjadi seorang yang multidisiplin dan menghargai pentingnya waktu.
Tarik napas yang dalam untuk menetapkan satu keputusan, dan tekad pun telah membulat. Akhirnya, Bilal memfokuskan langkah kakinya untuk menuju ruang F 2.1 di lantai 2, tempat dimana kelas yang dikira pasti tengah berlangsung saat ini.
Meski diselimuti keraguan, Bilal tetap memantapkan langkah kakinya menuju ruang kuliah hari ini. Langkah demi langkah terlewati, semakin mendekati ruang kuliah, menapaki anak tangga sambil menggesekkan tangan pada diding kampus yang terasa kasar karena dilapisi dengan batu granit.
Debar jantung Bilal semakin kencang ketika sekitar tiga langkah lagi dia akan sampai tepat di depan pintu masuk. Langkah kakinya terasa berat bagaikan berjalan di dalam air. Dua langkah lagi, satu langkah, dan....
”Bilaaaaaal!”. Bilal tersentak, terkejut karena mendengar suara teriakan yang menyebutkan namanya.
Penasaran dengan apa yang didengarnya, membuat Bilal membalikkan badannya ke belakang. Tetapi, tak ada dilihatnya ada seseorang yang dirasa memanggilnya. Kembali Bilal pada tujuannya semula tanpa menghiraukan lagi ada atau tidaknya seseorang yang memanggilnya.
Ketika Bilal tepat berada di hadapan pintu, betapa terkejutnya dirinya—tak ada satu pun orang yang berada di dalam ruangan. Bilal bingung sendiri dan bertanya-tanya dalam hati, kemana semua orang? apakah aku masuk ke ruangan yang salah?.
Merasa tak percaya, Bilal menatap kembali nomor ruangan di dekat pintu. Dan ruangan yang dimasukinya adalah ruangan yang benar, memang ruangan dimana mata kuliah saat ini biasanya berlangsung. Mungkin saja kuliah hari ini berpindah ruangan, Bilal mencoba memeriksa satu persatu lokal di Gedung F lantai dua itu. Semakin bingung dirinya saat ini, karena tidak mendapati apa yang berusaha ditemukannya. Dan saat dia hendak menuruni tangga mencoba menemukan temannya yang mungkin berada di ruangan lantai satu, dia menjumpai Junai yang sedang duduk di anak tangga. Junai adalah teman Bilal berbeda jurusan, mereka berteman sejak SMA..
” Hei kawan, sedang apa di sini?”. Sapa Bilal.
Junai yang terlihat seperti orang yang sedang melamun sedikit kaget dengan sapaan Bilal. Dia menoleh ke arah Bilal hendak membalas sapaannya.
”Tidak sedang apa-apa kawan, cuma tadi aku kira pagi ini kuliah, eh..tidak taunya jadwal kuliah pagi ini diganti jadi siang nanti ”. Ucap Junai dengan ekspresi sebal.
”Eh..sama kita rupanya. Aku kira tadi sudah telat, tapi tidak taunya tidak ada satu orang pun yang ada”. Ujar Bilal.
“Ha..ha..ha..Memangnya tidak dapat sms dari Tata?’.
“Sms apa tu?” Tanya Bilal ingin tahu.
“Hari ini kan kalian tidak kuliah karena dosennya ada seminar di luar kota”.
”Bagaimana mau dapat sms? Handphone saja aku tidak punya kawan.” Ketus Bilal.
”Hari gini tak punya handphone? Ha..ha..ha… Tapi masih mending kamu Bilal, tidak dapat info gara-gara tidak punya HP. Sedangkan aku, punya HP tapi tak ada satu pun yang sms untuk memberi tahu.”
Bilal merasa hari ini mungkin dia sedang tidak beruntung, hanya karena keterbatasannya saja dia mengalami hal-hal yang menyebalkan seperti hari ini. Jika saja dia mempunyai sebuah handphone tentu dia tidak akan miskin informasi seperti sekarang ini. Tata sahabatnya yang juga adalah kekasih Junai, tentu akan memberikan informasi kepadanya. Dan tentunya juga, dia tidak perlu merasakan kesulitan hari ini.
Kelas hanya ada satu mata kuliah hari ini, karena tak ada kelas lagi seperti biasanya Bilal pergi ke perpustakaan pusat untuk membaca-baca buku yang berhubungan dengan kuliahnya. Bilal cukup rajin pada segi akademisnya, dia berusaha untuk menekuni kuliah agar nanti ilmu yang dipelajarinya dapat bermanfaat untuk merubah nasib hidupnya di masa yang akan datang.
Tak ada rasa sesal yang terpendam pada hati pemuda itu, tetap berpikiran positif dalam menghadapi persoalan hidup. Hidup ini hanya satu kali, pahit-manis, susah atau pun senang keadaannya, dilaluinya dengan rasa optimis dan bahagia.
Prioritas utama dalam hidupnya saat ini adalah menggali ilmu dan mendapatkan pengalman hidup yang sangat berharga, agar dapat mengantarkan dirinya pada kebaikan dan jalan hidupnya pun tidak tersesat.
Bilal sangat bahagia dapat berkuliah di Universitas Andalas ini, karena perjuangannya agar dapat mengenyam bangku kuliah tidaklah mulus. Setelah tamat SMA, Bilal menganggur selama dua tahun. Niat hatinya ingin segera melanjutkan study ke perguruan tinggi, namun, karena keterbatasan ekonomi keluarganya, memaksa Bilal untuk bekerja sebagai nelayan lepas di malam hari, membantu ayahnya sambil menyisipkan simpanan uang untuk biaya masuk kuliah.
Mentari senja bersinar terang di ufuk Barat, cahaya kemerahan memancar di langit. Duduk di atas batu pemecah ombak, memandangi sunset yang beri ketenangan dalam hatinya. Bilal Bin Rabah, satu sosok pemuda yang senantiasa tabah menjalani kehidupan. Berkaca pada dirinya dan penuh semangat mengarungi kehidupan, karena mensyukuri anugerah Yang Maha Kuasa. Berusaha mendekatkan selalu dirinya pada Tuhan, doa-doa yang dipanjatkan adalah risalah hati agar cita-cita dan harapannya esok terwujud.

to be continued.
comind soon chapter 2

created by : Nanda Rezki
Sistem Komputer
Universitas Andalas

0 komentar:

Posting Komentar